Layanan Tiket Pesawat Murah, Booking dan Cetak Sendiri Tiketnya

CARA MUDAH BERBISNIS TIKET PESAWAT

Apakah anda sudah siap untuk Bergabung??

Bergabung? silahkan klik disini

Sabtu, 18 Februari 2012

Laba Anjlok, Qantas Kurangi Rute Penerbangan

Aksi mogok kerja dan naiknya harga bahan bakar membuat laba Qantas anjlok 83%


Armada maskapai penerbangan Qantas

Maskapai penerbangan terbesar Australia, Qantas, berencana menutup sejumlah jalur internasional. Bahkan Qantas juga akan mendepak ratusan karyawan setelah laba terakhir yang mereka terima anjlok akibat aksi mogok buruh dan naiknya harga bahan bakar.

Menurut laman stasiun televisi BBC hari ini, manajemen Qantas mengungkapkan bahwa laba bersih yang mereka terima pada paruh kedua 2011 sebesar A$42 juta. Dengan demikian mereka menderita penurunan laba hingga 83 persen karena pada periode yang sama pada tahun sebelumnya nilai keuntungan bersih yang diterima sebesar A$241 juta.

Qantas mengutarakan anjloknya laba ini merupakan konsekuensi dari aksi mogok buruh selama berhari-hari pada tahun lalu sehingga menanggung biaya $194 juta. Selain itu, maskapai tersebut juga terkena dampak naiknya harga bahan bakar sebesar 26%. Biaya yang ditanggung dari kenaikan itu sebesar A$2,2 miliar. 

Kepala Eksekutif Korporat Qantas, Alan Joyce, menilai bahwa laba yang masih mereka dapat sudah terbilang bagus mengingat sejumlah tantangan berat yang telah dihadapi.

Namun Qantas kini harus menutup sejumlah rute penerbangan internasional karena makin turunnya tingkat permintaan, bersamaan dengan persaingan yang makin ketat dari para kompetitor. Tingkat permintaan domestik masih terbilang bagus.

Sejumlah rute yang akan mereka pangkas di antaranya Singapura - Mumbai dan Auckland - Los Angeles, yang akan berlaku pada 6 Mei 2012. Qantas juga telah mengumumkan penutupan rute Hong Kong - London dan Bangkok - London, yang dimulai Maret mendatang.

Isu Outsourcing

Selain mengurangi rute, Qantas dalam waktu dekat juga akan mem-PHK hingga 500 staf. Joyce memastikan bahwa Qantas tidak akan menerapkan outsourcing (merekrut pegawai kontrak) dari luar negeri. "Saya tegaskan tidak akan ada pekerjaan yang ditawarkan ke luar negeri," kata Joyce.

Isu outsourcing itu yang menjadi salah satu masalah antara Qantas dan sejumlah serikat buruh yang mewakili para pekerja mereka sehingga terjadi aksi mogok kerja berhari-hari tahun lalu.

• VIVAnews

Tidak ada komentar: